
Design Thinking dan Agile Software: Resep Software Profesional – Aktivitas penyebaran software menjadi kompleks karena kebutuhan untuk partisipasi pengguna secara langsung pada pembuatan perangkat lunak untuk menciptakan solusi yang terintegrasi. Penggunaan prinsip Agile Software Development (ASD) pada manajemen proyek memungkinkan perilisan software menjadi cepat dengan meminimalisir waktu pengiriman dan pembuatan, memasarkan pengujian parsial dan pendistribusian dengan lebih cepat dibandingkan dengan metode manajemen proyek klasik.
Berdasarkan prespektif organisasi, Agile Software Development (ASD) memperkenalkan kolaborasi antara stakeholder proyek perangkat lunak dengan transparasi dan perolehan nilai yang lebih besar oler konsumen, selain mengembangkan mutu produk dan meminimalisir waktu guna memperbaiki kesalahan atau kendala. Disisi lain, 84% organisasi masih dalam tingkat kematangan yang rendah pada penerapan prinsip Agile dan 40% praktisi Agile membuktikan jika metode ini bisa mengelolah tim dengan baik, sedangkat 22% mengindikasi adanya pengurangan anggaran pada proyek pengembangan software akibat prinsip Agile.
Guna menanggulangi permasalah ini, perusahaan perlu membuat mekanisme yang menampung keinginan pengguna dengan produk atau layanan yang diciptakan yang merupakan tujuan dari pendekatan Design Thinking yang akan dibahas secara mendalam antara keterkaitan kedua prinsip tersebut pada pembuatan software.
Design Thinking
Pendekatan Design Thinking (DT) menciptakan solusi yang berpotensi untuk menyelesaikan masalah dengan menawarkan produk atau layanan yang lebih berkualitas, dan produktivitas serta operasional perusahaan yang optimal. Hal ini bertujuan untuk memperoleh data terkait keinginan konsumen yang layak dan potensial untuk bisnis secara teknis sehingga menghasilkan keuntungan bagi konsumen dan nilai perusahaan. Salah satu aspek penting dari pendekatan Design Thinking (DT) ialah representasi visual yang menyebabkan ide dapat berkembang secara nyata dan dapat diterima oleh publik, dan memastikan jika produk yang dihasilkan sesuai dengan yang ekspektasi dalam proses pengembangan. Perlu ditekankan jika prosesnya dilakukan secara berulang selaras dengan adanya komponen baru pada proses pembuatan keputusan berkelanjutan guna memperoleh target yang diinginkan

Pada fase awal pendekatan Design Thinking (DT) yaitu fase empati, memungkinkan individu membuat prototype untuk membantu memahami tujuan dan hasil yang lebih baik. DT dapat memperkuat pemikiran yag terstruktur yang menunjang proses kreatif dalam pembuatan produk dan layanan baru yang berorientasi dan sesuai dengan pengalaman pelanggan. Berpikir integratif tidak hanya membandingkan dan memilih dua alternatif yang bertentangan, tetapi juga menganalisis alternatif tersebut untuk memperoleh hasil yang lebih baik dibandingkan memilih satu dari alternatif tersebut. Perlu diperhatikan jika pendekatan DT mempunyai ide yang lebih luas mengenai pemikiran yang diluar nalar dan objektivitas pada kreativitas dan inovasi.
Agile Software Development
Penerapan Agile Software Development (ASD) menekankan pada pendekatan incremental untuk proyek pengembangan perangkat lunak, lebih dari sekedar mengikuti fase berurutan yang sudah ditetapkan sebelumnya. Prinsip ini menekankan pada keterlibatan individu pada pengembangan software lebih dari sekedar proses dan alat, uji coba pada software yang dilakukan secara berkala, serta kolaborasi antara klien dan pengembang. Penerapan praktik kualitas dan proses yang mempertimbangkan keuntungan dapat meningkatkan dan mempercepat kegiatan pengembangan sehingga kepuasan pengguna dapat tercapai. Oleh sebab itu, memperkuat pendekatan Agile Software Development (ASD) pada perusahaan dapat menghadapi perubahan konstan pada perusahaan sehingga kemampuan untuk beradaptasi pada ketidakpastikan dan perubahan dapat dilatih.

Menurut penelitian, metode utama dalam penerapan Agile Software Development (ASD) dan yang sering diterapkan adalah Scrum, Pengembangan Ramping, Extreme programming (XP), Dynamic systems development methods (DSDM), metode kristal, Adaptive software development (ASD), Feature-driven development (FDD). Agile Software Development (ASD) mempunyai beberapa karakterikstik diantaranya adalah
- Kemampuan beradaptasi
- Interaksi yang intens dengan pengguna
- Ekeftivitas dan kecakapan dalam bergerak
Pengaruh Design Thinking dan Agile Software Development pada pengembangan Software
Mengaplikasikan pendekatan Design Thinking dengan metode Agile yang direkomendasi oleh ISO mempunyai integrasi tertinggi. Berdasarkan penelitian, Scrum merupakan prinsip Agile Software Development (ASD) yang sering diintegrasi dengan pendekatan Design Thinking. Apabila kedua prinsip ini dimanfaatkan secara bersama-sama, tim developer bisa memaksimalkan potensi guna mengembangkan produk yang sangat bermutu dan dapat memenuhi keinginan klien dan pasar.
Tim pengembang bisa mengaplikasikan Design thinking yang berfungsi sebagai penyedia solusi kreatif atas kendala atau permasalahan pengguna dengan memperhitungkan faktor pengalaman konsumen sedangkan prinsip Agile berperan dalam pembuatan software dengan fleksibilitas dan kolaborasi tim yang kuat yang memungkinkan adanya perbaikan dan perbaruan perangkat lunak secara berkala sesuai dengan umpan balik dari klien. Dengan memanfaatkan kedua pendekatan ini, tim developer software bisa mengembangkan produk yang bermutu dan inovatif guna memenuhi kebutuhan pasar. Oleh karena itu, penggunaan pendekatan Design Thinking dengan metode Agile Software Development (ASD) memperlihatkan kekhawatiran dengan penyalarasan yang lebih baik antara permintaan pelanggan dengan tim pengembang di sepanjang life cycle perangkat lunak, termasuk fungsional yang lebih baik. Arkatama sebagai Jasa Konsultan IT dan Software House Malang dapat memenuhi segala kebutuhan Anda di bidang IT hingga memberikan solusi bagi setiap permasalahan bisnis Anda. Anda dapat menghubungi kami melalui link berikut https://s.id/AdminWeb atau kunjungi Instagram resmi kami pada @arkatamamulti. Konsultasikan permasalahan IT Anda pada ahlinya sekarang!
