
Open Source vs Closed Source: Mana yang Lebih Menguntungkan Bisnis – Di era digital ini, penggunaan perangkat lunak telah merambah ke kehidupan sehari-hari yang membuat banyak pekerjaan menjadi lebih efektif dan efisien. Hampir Sebagian besar software pada perangkat digitak dikembangkan dengan menggunakan source code, yang merupakan blue print bagi fungsionalitas program di perangkat lunak. Sebelum melakukan proses pengembangan perangkat lunak, pengembang perlu menentukan tipe perangkat lunak yang diciptakan, apakan akan menjadikannya open source atau closed source. Artikel ini akan menjelaskan lebih dalam mengenai perbedaan open source dan closed source, serta mana yang lebih menguntungkan bagi suatu bisnis . simak artikel berikut dengan seksama!
Pengertian open source

Open source (sumber terbuka) merupakan suatu model penciptaan software dengan menggunakan source code, sehingga software dapat dipublikasikan ke publik dan memperndak pengunaan, modifikasi, akses, dan pendistribusian dengan bebas dan gratis tanpa perlu memberikan royalty kepada pencipta. Komunitas pengembang dan user bisa berkolaborasi dan berkontribusi pada pembuatan dan perbaikan perangkat lunak (bug fixes) pada model open source.
Model open source mengedepankan transparasi dan keterlibatan secara aktif komunitas pengguna dan pengembang. Hal ini bisa mempermudah pengembang dalam memaksimalkan dan meningkatkan kualitas perangkat lunak melalui pemberian solusi terbaik dengan berbagai perspektif dan keahlian. Model open source telah banyak digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan berbagai produk software terkenal, misalnya database MySQL, Linux, Browser web Mozilla Firefox
Baca Juga: Website Company Profile: Berikan Citra Positif untuk Perusahaan
Kelebihan
- Biaya: perangkat lunak open-souce biasanya bersifat gratis yang memungkinkan pengguna dapat menggunakannya tanpa membayar biaya lisensi.
- Kustomisasi: pengembang dapat memodifikasi dan mengkustom perangkat lunak untuk memenuhi persyaratan yang spesifik karena sumber kode yang tersedia.
- Dukungan komunitas: perangkat lunak open source memiliki komunitas pengguna yang sangat besar untuk berkontribusi dalam dokumentasi, perbaikan, dan pengembangan
- Keamanan: dengan perangkat lunak open source, komunitas dapat mendeteksi dan memperbaiki keamanan yang rentan denagn cepat.
Kekurangan
- Dukungan teknis yang terbatas: tidak ada garansi dukungan teknis oleh professional meskipun komunitas pengguna yang masif dapat membantu memecahkan permasalahan,
- Kompleksitas: perangkat lunak open-source bisa menjadi sangat sulit untuk diatur dan dikonfigurasi daripada perangkat lunak closed source, khususnya kebanyakan pengguna tidak mempunyai pengalaman dalam penciptaan perangkat lunak
- Terbatasnya fitur: fitur – fitur yang terdapat di perangkat lunak hisa jadi tidak sebanyak fitur yang ditawarkan pada perangkat lunak closed souce, terutama untuk industri khusu dan nice terkait.
Pengertian closed source

Closed source atau perangkat lunak proprietary merupakan suatu model pengembangan software yang mana source codenya tidak dipublikasikan untuk umum atau tidak bisa digunakan oleh pengguna dan developer lain. Penggunaan software yang closed source ini hanya terbatas pada pemilik atau pengembang yang memiliki hak eksklusif dalam hal penyalinan, modifikasi, pendistribusian software tersebut. Pemakaian closed source biasanya membutuhkan lisensi pemakaian yang perlu dibeli atau dibayar yang menyebabkan pemanfaatkan dan pemeliharaan perangkat lunak menjadi lebih mahal.
Tidak hanya itu, pengguna tidak bisa melakukan modifikasi software guna melengkapi kebutuhan karena akses pada source code tidak dipublikasikan. Penggunaan model closed source biasanya dilakukan oleh perusahaan – perusahaan raksasa yang mempunyai peringkat komersial yang tinggi dan menginginkan source code pada perangkat lunak bersifat privat sehingga tidak dapat diubah dan disalin tanpa izin oleh pihak lain. Produk software yang memakai model closed source meliputi adobe photoshop, AutoCAD, dan Microsoft Windows.
Baca Juga: Tak Tertembus! Cara Melindungi Keamanan Website
Kelebihan
- Dukungan teknis. Mayoritas perangkat lunak closed source didukung oleh professional yang ahli di bidangnya, sehingga dapat membantu organisasi dalam mempersiapkan, mengkonfigurasi, dan menyelesaikan permasalah yang ada.
- Fitur: perangkat lunak closed source biasanya mempunyai fitur-fitur yang lebih lengkap disbanding perangkat lunak open source. Hal ini meliputi alat analisis, visualisasi data lanjutan, hingga pelaporan.
- Keamanan: perangkat lunak closed source dikembangkan dengan fitur keamanan yang ketat dan menyediakan perlindungan terhadap serangan cyber yang lebih baik.
Kekurangan
- Biaya: biaya perangkat lunak closed source bisa sangat mahal karena adanya biaya lisensi dan pemeliharaan yang bisa ditambahkan sewaktu – waktu.
- Penguncian vendor: ketergantungan terhadap vendor dan kesulitas berpindah ke software lain merupakan kecenderungan organisasi yang memakai perangkat lunak closed source.
- Kustomisasi yang terbatas: kustomisasi perangkat lunak closed source tidak semudah seperti perangkat lunak open-source yang tentunya merugikan bagi perusahaan yang membutuhkan persyaratan yang lebih speksifik
- Minimnya transparasi: karena source code tidak tersedia, pengguna tidak bisa melihat bagaimana software bekerja atau data yang dikumpulkan oleh software sehingga meningkatkan resiko terganggunya privasi pengguna.
Persamaan
- Keduanya bisa dipakai untuk mengerjakan berbagai tugas dan menunjang beragam aplikasi.
- Keduanya bisa dikembangkan untuk berjalan pada beberapa program operasi, misalnya Windows, Linux, dan macOS.
- Keduanya bisa diaplikasikan untuk menunjang aplikasi dan layanan mission-critical.
- Keduanya bisa digunakan dari jarak jauh memanfaatkan beberapa alat dan antarmuka.
- Keduanya bida diperbarui dan dikelola dengan teratur guna membenarkan bug, memperbanyak fitur baru, dan meningkatkan performa.
Perbedaan
Perbedaan utama antara open source dan closed source adalah pada akses dan distribusi kode sumber (source code) dari perangkat lunak.
· Kegunaan atau usability
Pada model open source, source code pada software dipublikasikan untuk umum dan bisa dikelola, dipakai, diubah, dan disebarkan secara bebas oleh siapapun tanpa perlu membayar lisensi atau royalty. Sedangkan pada model closed source, hanya owner dan developer yang mempunyai hal eksklusif untuk mengakses source code untuk penyalinan, modifikasi, dan pendistribusian software.
· Biaya
Model open source biasanya bersifat gratis atau menawarkan harga yang terjangkau, sebab pengguna tidak harus membayar royalty dan biaya pemeliharaan. Sedangkan pada model closed source, pengguna harus membayar royalty dan biaya pemeliharaan perangkat lunak, sehingga harga yang ditawarkanpun relatif mahal disbanding open source.
· Aksesibilitas
perangkat lunak open source memiliki komunitas pengguna yang sangat besar untuk berkontribusi dalam dokumentasi, perbaikan, dan pengembangan. Pengembang juga dapat memodifikasi dan mengkustom perangkat lunak untuk memenuhi persyaratan yang spesifik karena sumber kode yang tersedia. Sedangkan dalam model closed source, Penggunaan software yang closed source ini hanya terbatas pada pemilik atau pengembang yang memiliki hak eksklusif dalam hal penyalinan, modifikasi, pendistribusian software tersebut. hal ini menyebabkan pengguna tidak mempunyai kuasa penuh terhadap software yang mereka pakai.
· Keamanan
Open Source vs Closed Source. Pada open source, komunitas dapat mendeteksi dan memperbaiki keamanan yang rentan denagn cepat. Sedangkan pada model closed source, perangkat lunak closed source dikembangkan dengan fitur keamanan yang ketat dan menyediakan perlindungan terhadap serangan cyber yang lebih baik.
· Ketersediaan
model open source bersifat transparan dan terbuka, serta menawarkan kebebasan bagi pengguna dan pengembang untuk menggunakan, merubah, dan menyebarkan software. Sedangkan model closed source menawarkan hak eksklusif terhadap pemilik atau pengembang perangkat lunak dalam hal pengelolaan, pembatasan akses dan pemakaian software tersebut.
Secara keseluruhan, Pemilihan penggunaan perangkat lunak Open Source vs Closed Source tergantung pada keperluan atau kebutuhan perusahaan. Perangkat lunak open source merupakan opsi yang cicik bagi perusahaan kecil dengan budget terbatas, sementara perangkat lunak closed source lebih pantas untuk perusahaan besar yang membutuhkan fitur serta dukungan yang lebih professional untuk tingkat perusahaan. Dapat disimpulkan, jika kedua model software ini mempunyai keunggulan dan kelemahan, serta organisasi perlu berhati-hati dalam mempertimbangkan model software yang sesuai dengan kriteria organisasi sebelum pengambilan keputusan.
Arkatama sebagai Jasa Konsultan IT dan Software House dapat memenuhi segala kebutuhan Anda di bidang IT hingga memberikan solusi bagi setiap permasalahan bisnis Anda. Anda dapat menghubungi kami melalui link berikut https://s.id/AdminWeb atau kunjungi Instagram resmi kami pada @arkatamamulti. Konsultasikan permasalahan IT Anda pada ahlinya sekarang!
Content Writer: Maharani Huzaema (DTS BATCH 3)
