Arkatama

5 Kebiasaan Software Developer yang Wajib Dimiliki!

Kebiasaan Software Developer yang Wajib Dimiliki

Kebiasaan Software Developer – Software adalah suatu program atau serangkaian instruksi yang digunakan untuk melakukan tugas tertentu pada komputer atau perangkat elektronik lainnya. Software juga bisa disebut dengan perangkat lunak atau aplikasi. Dalam pembangunannya, software dibangun melalui beberapa proses mulai dari tahap perencanaan hingga tahap pemeliharaan setelah perilisan. Proses yang panjang dan kompleks tersebut terdapat hal-hal yang sering dilupakan atau diremehkan, padahal berdampak penting pada proses pengembangan sebuah software.

Seorang software developer sebagai pembuat software harus paham terkait hal-hal baik yang harus dibiasakan untuk meningkatkan proses dan hasil dari pengembangan software. Kebiasaan ini harus dibangun dengan disiplin dan konsistensi. Praktik-praktik ini tidak hanya meningkatkan proses dan hasil pengembangan software, tetapi juga meningkatkan kualitas developer. 

Setiap software memiliki fitur yang berbeda-beda, tergantung pada tujuan dan kebutuhan pengguna. Oleh karena itu, pengembangan software harus didasarkan pada pemahaman yang baik tentang kebutuhan dan preferensi pengguna, sehingga fitur-fitur yang disediakan dapat memenuhi harapan dan memudahkan pengguna dalam menggunakan software tersebut. Untuk dapat memenuhi harapan pengguna, seorang software developer perlu untuk mempunyai kebiasaan-kebiasaan yang baik. Apa saja itu? Simak penjelasan selanjutnya!

1. Pahami Tujuan Sebuah Fitur

Salah satu kebiasaan yang tidak baik para developer adalah membuat sebuah fitur hanya berdasarkan spesifikasi tanpa mengetahui apa tujuan dari dibuatnya fitur tersebut. Padahal langkah ini sangat penting dalam membangun software yang bermanfaat dan relevan. Pemahaman yang baik tentang fitur-fitur yang dibutuhkan dapat membantu tim developer dalam menentukan prioritas tugas dan merencanakan timeline pengembangan dengan lebih baik. Lalu bagaimana cara memahami fitur dengan baik? Ada beberapa tahap yang bisa dilakukan untuk membantu tim developer dalam memahami sebuah fitur, yaitu:

a. Komunikasi dengan pelanggan untuk memahami dan mendapatkan masukan dari mereka.
b. Membuat spesifikasi fitur dengan jelas dan terperinci.
c. Membuat mockup atau prototipe fitur untuk membantu tim developer memvisualisasikan bagaimana fitur akan bekerja di dalam software.
d. Membuat user story untuk memahami kebutuhan pengguna dan memastikan bahwa fitur yang dikembangkan akan memenuhi kebutuhan mereka.

Selain itu, untuk memahami tujuan dari sebuah fitur, seorang developer harus bisa membiasakan untuk berteman dengan fitur dengan mengenal seluk-beluk fitur yang sedang dikembangkan. Sangat diperlukan untuk menggali beberapa hal berikut:

a. Mengapa fitur dibutuhkan?
b. Seberapa penting fitur yang dikembangkan?
c. Adakah keterkaitan dengan fitur lain?
d. Apakah fitur bersifat sementara atau jangka panjang?

Baca Juga: Custom Software House

2. Mulai Dengan Perencanaan

Perencanaan yang matang dapat membantu tim developer untuk mengurangi risiko dan menjamin keberhasilan pengembangan software. Selain mengurangi risiko, tim developer dapat memperkirakan waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan setiap tugas dan mengalokasikan sumber daya dengan efektif. Keberhasilan proyek pengembangan software dapat tercapai karena tim developer memahami persyaratan dan tujuan dari proyek, sehingga software yang dirancang lebih berkualitas dan sesuai dengan kebutuhan pengguna.

Coding tanpa perencanaan yang matang akan berakhir dengan baris kode yang tidak efektif dan menimbulkan masalah di kemudian hari. Dengan melakukan perencanaan yang hanya memakan waktu 1 jam bisa menghemat banyak jam untuk kesalahan yang seharusnya bisa dihindari. Cakupan perencanaan ideal yang perlu dicermati adalah sebagai berikut:

a. Hindari technical debt terlalu dini
b. Pikirkan metode dengan risiko paling minim
c. Tentukan exit strategy dan rencana cadangan

Perencanaan sangat penting dilakukan sebelum melakukan segala sesuatu, terutama dalam pengembangan software. Hal ini harus menjadi kebiasaan baik bagi tim developer.

3. Self-code Review

Self-code review adalah proses dimana seorang developer meninjau kode yang telah ditulis secara mandiri untuk memastikan bahwa kode tersebut telah ditulis dengan benar dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan. Walaupun biasanya seorang developer bekerja secara tim, self-code review juga harus tetap dilakukan untuk mencegah hal-hal buruk yang terjadi di masa depan. Dengan mereview code secara individu sebelum menyatukannya secara tim, akan mengoptimalkan kinerja tim dan meminimalisir bug yang mungkin terjadi. Selain itu, self-code review juga membantu developer untuk mempelajari hal-hal baru dan meningkatkan skill programmingnya. 

Hal yang perlu dipastikan dalam self-code review adalah:

a. Typo dan dead code
b. Code smell secara kasat mata
c. Perubahan yang tidak diinginkan

Dalam pengembangan software, kebiasaan ini menjadi penting untuk membantu meningkatkan kualitas kode, mengurangi waktu dan biaya yang diperlukan untuk memperbaiki kesalahan, dan meningkatkan kemampuan pemrograman pengembang.

4. Mencatat Dokumentasi

Dokumentasi merupakan catatan tertulis tentang kode dan fungsionalitas yang terkait dengan software yang sedang dikembangkan. Dengan menyimpannya dalam dokumentasi, data di dalamnya dapat membantu developer untuk memahami kode, mengembangkan ulang kode, dan melakukan debugging. Selain itu, dokumentasi juga membantu pengembang baru untuk memahami dan mempelajari kode dengan lebih mudah. Berikut beberapa tips yang bisa diterapkan untuk mencatat dokumentasi dengan baik:

a. Membuat dokumentasi sejak awal dalam pengembangan software.
b. Gunakan bahasa yang mudah dipahami dan jangan terlalu banyak menggunakan istilah teknis yang sulit dipahami oleh orang awam.
c. Berikan penjelasan yang jelas dan lengkap tentang setiap bagian kode yang ditulis.
d. Gunakan template dokumentasi yang konsisten untuk setiap bagian kode yang ditulis agar mudah menavigasi dan memahami setiap bagian kode dengan lebih baik.
e. Gunakan alat dokumentasi seperti Doxygen atau Javadoc untuk membuat dokumentasi kode secara otomatis untuk menghemat waktu dan tenaga.
f. Perbarui dokumentasi secara teratur ketika ada perubahan dalam kode atau fungsionalitas software.

5. Melakukan Testing Secara Teratur

Software testing adalah proses dimana sebuah software diuji untuk memastikan apakah sudah sesuai dengan persyaratan dan bebas dari cacat sebelum software diluncurkan. Kebanyakan proses ini dilakukan hanya di akhir pengembangan software. Namun, perlu untuk dilakukan secara teratur agar menghemat waktu dan biaya jika terdapat kesalahan dan cacat pada software yang ditemukan pada tahap awal pengembangan. Software yang telah melewati proses pengujian yang baik akan memiliki kualitas yang tinggi dan membantu untuk meningkatkan kepercayaan penggunanya. Hal ini tentu sangat menguntungkan bagi perusahaan sebagai pengembang software.

Baca Juga: Peran Penting Quality Assurance dalam Software Tester

Kebiasaan merupakan sebuah aktivitas atau perilaku yang sering dilakukan dalam sehari-hari, oleh karena itu sangat penting untuk memperbaiki kebiasaan yang tidak baik. Untuk membiasakan aktivitas baru, coba terapkan kelima kebiasaan diatas sebelum menerapkan kebiasaan lainnya. Jika Anda ingin meningkatkan skill pemrograman, Anda bisa mengikuti IT Training Center bersama AMD Academy yang juga menyediakan Pelatihan Sertifikasi Digital Marketing BNSP. Sebagai Software House dan Jasa Konsultan IT terpercaya, Arkatama juga menyediakan berbagai layanan dan informasi seputar teknologi masa kini. Pelajari selengkapnya dengan mengunjungi laman https://arkatama.id/.

Content Writer: Fatihatur Rizqi Maulidiyah (DTS Batch 3)

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *