Arkatama

Peran Penting Quality Assurance dalam Software Tester

Peran Penting Quality Assurance dalam Software Tester

Memuaskan pelanggan adalah hal nomor 1 di dunia bisnis. Namun, beberapa kesalahan juga dapat terjadi hingga membuat pelanggan tidak puas dengan produk atau layanan yang kita berikan. Ketidakpuasan pelanggan akan diikuti dengan menurunnya loyalitas pelanggan kepada bisnis kita karena mereka akan berpikir bahwa bisnis kita tidak kredibel atau kurang dan bahkan tidak berkualitas. Apabila terjadi berulang kali maka bisnis kita akan benar-benar dalam bahaya dan perusahaan perlu melakukan sebuah tindakan.

Dalam bisnis Software House, hal tersebut dapat terjadi karena adanya beberapa kesalahan dalam proses pembuatan software, salah satunya saat tahap pengujian software atau Software Testing. Software Testing adalah metode dimana perusahaan memastikan bahwa software yang diproduksi telah memenuhi persyaratan yang diharapkan. Selain itu, pengujian software dilakukan untuk memastikan bahwa produk yang dibuat bebas dari kerusakan atau cacat.

Orang yang memiliki pekerjaan untuk melakukan Software Testing di sebuah perusahaan Software House biasa disebut dengan Software Tester. Dalam setiap perusahaan tentu memiliki struktur kerja tim masing-masing, biasanya dalam proses ini yang melakukan pengujian pada software adalah QA (Quality Assurance). Quality Assurance memiliki peranan yang sangat penting dalam Software Tester yang akan kita bahas lebih detail dalam artikel ini.

Pengertian Quality Assurance (QA)

Sebelum mengetahui peran penting dari Quality Assurance, kita perlu mengetahui apakah Quality Assurance itu? Quality Assurance (QA) adalah suatu proses memvalidasi bahwa suatu produk telah memenuhi standar perusahaan atau industri. QA merupakan bagian terpenting untuk memastikan kualitas produksi dan mencakup proses lainnya seperti perencanaan, pemenuhan, dan pemantauan.

Dengan kata lain QA melibatkan setiap aktivitas yang memastikan standar, prosedur, dan memvalidasi apakah software telah memenuhi kriteria kualitas yang ditetapkan sebelum produk dirilis ke publik. Aktivitas tersebut dilakukan untuk menghindari proses pengulangan pembuatan agar kinerja lebih efisien dan menghindari keluhan dari klien.

Perbedaan Quality Assurance (QA) dengan Quality Control (QC)

Meskipun berada di departemen yang sama, Quality Assurance dan Quality Control memiliki perbedaan yang terletak pada tugas dan tanggung jawab. QA berperan dalam menjamin kualitas produk, sedangkan QC berperan sebagai pengendali kualitas dari produk yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas perusahaan.

Dari segi tanggung jawab, QA harus memastikan bahwa produk software sudah memenuhi seluruh standar kualitas disetiap komponen sebelum diluncurkan ke pasar. Pimpinan staf QA perlu ikut serta untuk menetapkan kualitas pada klien. Berbeda dengan QC yang bertanggungjawab memeriksa produk software dari sebelum hingga setelah proses produksi menetapkan standar kualitas yang diperlukan. Pimpinan staf QC berhak untuk menerima atau menolak produk software yang akan diluncurkan ke publik berdasarkan temuan cacat atau tidaknya produk tersebut.

Keduanya saling berkaitan untuk meningkatkan kualitas baik dari produk atau pelayanan. Proses dalam Quality Assurance menggunakan suatu siklus bernama PDCA cycle yang akan kita bahas juga nanti.

Meskipun berada di departemen yang sama, Quality Assurance dan Quality Control memiliki perbedaan yang terletak pada tugas dan tanggung jawab. QA berperan dalam menjamin kualitas produk, sedangkan QC berperan sebagai pengendali kualitas dari produk yang dihasilkan sesuai dengan standar kualitas perusahaan.

Dari segi tanggung jawab, QA harus memastikan bahwa produk software sudah memenuhi seluruh standar kualitas disetiap komponen sebelum diluncurkan ke pasar. Pimpinan staf QA perlu ikut serta untuk menetapkan kualitas pada klien. Berbeda dengan QC yang bertanggungjawab memeriksa produk software dari sebelum hingga setelah proses produksi menetapkan standar kualitas yang diperlukan. Pimpinan staf QC berhak untuk menerima atau menolak produk software yang akan diluncurkan ke publik berdasarkan temuan cacat atau tidaknya produk tersebut.

Keduanya saling berkaitan untuk meningkatkan kualitas baik dari produk atau pelayanan. Proses dalam Quality Assurance menggunakan suatu siklus bernama PDCA cycle yang akan kita bahas juga nanti.

Peran dan Tanggung Jawab Quality Assurance dalam Software Testing

Peran QA dalam Software Testing memang sudah nampak jelas adalah untuk menguji produk software. Namun selama proses pengujian, QA melakukan lebih dari sekedar pengujian. Selama pengujian software, sebagian besar waktu dihabiskan untuk melakukan tugas tertentu seperti menulis kasus atau masalah dalam pengujian dan laporan bug. Selain menguji software secara menyeluruh, kegiatan lainnya adalah:

  1. Melakukan perencanaan pengujian yang melibatkan kegiatan mendefinisikan tujuan software testing dan pendekatan untuk memenuhi tujuan yang ditetapkan.
  2. Membuat strategi software testing berdasarkan persyaratan yang ada dan jadwal proyek.
  3. Membuat pengujian awal untuk menghindari cacat pada tahap awal serta menekan biaya dan waktu untuk perbaikan.
  4. Melaksanakan pengujian menggunakan teknik yang sesuai (secara manual atau menggunakan alat pengujian) dan mendokumentasikan kegagalan.
  5. Menganalisis cacat dan mengidentifikasi akar penyebab dari kegagalan.
  6. Memecahkan masalah cacat agar kualitas produk tidak terpengaruh.
  7. Melaporkan adanya cacat produk ke software development dengan merekam cacat software dengan sistem pelacakan bug seperti Bugzilla, mantis, QA Touch, dll.
  8. Menginformasikan progress software testing terhadap jadwal quality management.
  9. Saling berkomunikasi dengan manajer proyek, tim development, dan klien sesuai kebutuhan.
  10. Melakukan prosedur pengujian yang berbeda, melaporkan masalah, dan menindaklanjuti status masalah.
  11. Berkolaborasi dengan tim software tester untuk menilai atau mendiagnosis masalah dan menyarankan solusi yang tepat.
  12. Memantau dan menganalisis kerja menggunakan alat untuk operasi yang efisien dan bebas dari masalah.
  13. Menemukan kerentanan dalam sistem dan menentukan bahwa data dilindungi dari penyusup.
  14. Memberikan laporan secara ringkas mengenai software testing bahwa produk di bawah kualitas terbaik pengujian.
  15. Mengelola seluruh aktivitas software testing dengan berbagai test management tools seperti QA Touch.

Proses Quality Assurance

Quality Assurance (QA) dipecah menjadi sikluk yang dikenal sebagai Deming Cycle atau siklus PDCA (Plan-Do-Check-Act). Berikut adalah penjelasannya:

  1. Plan (Rencana). Perusahaan harus membuat perencanaan dan menetapkan tujuan dan sasaran yang terkait dengan proses. Hal ini akan membantu tim untuk memahami apakah proses tertentu diperlukan untuk menghasilkan produk yang berkualitas tinggi.
  2. Do (Melakukan). Membuat dan menguji standar proses dan membuat perubahan pada alur kerja tradisional jika gagal memenuhi standar yang telah ditetapkan.
  3. Check (Memeriksa). Memantau jalannya proses, memodifikasi proses, dan mengevaluasi apakah perubahan yang dilakukan telah memenuhi tujuan yang telah ditentukan di awal.
  4. Act (Bertindak). Menjalankan tindakan yang diperlukan untuk mencapai perbaikan utama dalam proses.

Pelaksanaan Praktik Terbaik untuk Quality Assurance (QA)

Untuk menjamin kualitas dari sebuah produk software tentu tidak mudah. Ada beberapa praktik terbaik untuk menerapkan Quality Assurance yang dapat membantu kita untuk memenuhi semua standar. Berikut penjelasannya:

1. Terapkan Pendekatan Dua Tingkat (Two-Tier Approach) untuk Menguji Otomasi

Jika developer membuat komitmen pada jeda trunk utama selama proses build, penting bagi tim QA untuk memberi tahu manajemen sesegera mungkin. Tidak mungkin menerapkan pengujian sistem menyeluruh untuk setiap commit karena akan memakan waktu terlalu lama. Dengan mengadopsi pendekatan dua tingkat atau two-tier maka akan mudah untuk mengatasi masalah ini.

Dalam pendekatan dua tingkat, tingkat pertama dipicu setiap kali ada commit ke basis kode. Pemicu ini memberikan validasi cepat atas perubahan developer dan karena digunakan dengan sanity test, pemicu ini dapat menjalankan perubahan dalam beberapa menit. Pada saat yang sama, tingkat kedua menerapkan pengujian regresi lengkap dan berfungsi secara otomatis saat developer tidak melakukan perubahan apa pun (saat jam kerja tutup).

Dengan pendekatan ini, tim QA akan memiliki waktu tambahan untuk menguji perubahan dalam sistem software.

2. Buat Tim Khusus

Kebanyakan klien menggunakan produk software dalam bentuk penawaran software sebagai layanan (SaaS). Maka dari itu, tim software harus memiliki data server dan tim pengujian keamanan setiap akan merilis produk. Pada platform SaaS, apabila pengguna menemukan kerentanan keamanan, itu dapat mengusir mereka dengan cepat. Inilah mengapa tim QA harus membentuk tim pengujian keamanan khusus yang bertanggung jawab untuk melakukan pengujian penetrasi pada versi stabil.

Selain pengujian keamanan, tim QA juga harus membuat tim khusus untuk pengujian kinerja. Ini dapat membantu tim QA untuk memahami software secara singkat bagaimana versi dan fitur baru dapat menyebabkan risiko kinerja. Apabila tim development memperkenalkan serangkaian fitur baru yang tidak memengaruhi kinerja (fitur tombol di layar), cukup melakukan uji regresi saja. Namun, jika fitur baru dapat memengaruhi performa produk, sebaiknya tulis dan jalankan pengujian performa baru.

3. Lakukan Siklus Regresi

Penyelesaian dengan siklus regresi pada akhir stabilisasi produk software memberikan izin untuk berproduksi. Pada tahap pengembangan ini, perubahan yang diperlukan kecil, sehingga QA dapat menggunakan kesempatan ini untuk memvalidasi keseluruhan dari produk.

4. Simulasikan Akun Klien pada Produksi

Data klien yang tersimpan dalam database harus tetap kompatibel dan konsisten dengan versi baru software yang akan dirilis oleh tim. Untuk menghindari hal buruk sebaiknya membuat akun yang akan dikelola di sistem produksi. 

Akun ini dapat digunakan untuk generating data secara terus menerus dan mengisinya dengan database sendiri. Setelah merilis versi baru, tim dapat melakukan pembaruan untuk melihat data apa pun yang rusak. Jika ada bug yang rusak maka harus diselesaikan dengan cepat. Tim QA juga perlu untuk melakukan pengujian backwards compatibility manual saat menemukan metode otomatis dan lebih efisien.

5. Lakukan Sanity Test pada Produksi

Melakukan sanity test akun produksi pascarilis sangat penting untuk memvalidasi semua pekerjaan yang dilakukan oleh sistem sudah sesuai yang diharapkan. Pengujian harus dilakukan pada akun produksi saat ini dan kemudian dialihkan ke akun yang baru dibuat untuk memverifikasi bahwa sistem tetap berjalan dengan benar saat klien baru mendaftar.

6. Standar Penjaminan Kualitas Internasional

The International Organization for Standardization (ISO) merupakan sebuah lembaga internasional yang beroperasi untuk memastikan kualitas software di berbagai negara hingga 160 negara. Ini akan membantu bisnis kita untuk mempertahankan sistem jaminan kualitas yang efektif.

Itu dia penjelasan tentang betapa pentingnya Quality Assurance dalam Software Testing serta beberapa praktik terbaik dalam pelaksanaannya untuk memberikan kualitas produk software terbaik kepada klien perusahaan. 

Kepatuhan Arkatama selaku penyedia Jasa Konsultan IT dan Software House, terhadap standar Jaminan Kualitas Software House telah membantu kami memberikan tidak hanya solusi dengan kinerja terbaik tetapi juga produk yang memenuhi semua persyaratan kualitas industri, sehingga dapat membantu klien dengan menyediakan produk software yang berkualitas. Apabila ingin mengetahui informasi lebih lengkap, silahkan kunjungi website Arkatama atau hubungi disini.

Peran Penting Quality Assurance dalam Software Tester